Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) Vol 13, Issue 3, 2025: 169-178
Fulfilment minimum acceptable diet, exclusive breastfeeding, and infectious disease with stunting
Rokhiyatul Maila Putri1*, Sumardiyono2 , Ismiaranti Andarini3
1*Master Program of Nutritional Sciences, Graduate School, Universitas Sebelas Maret, Jalan, Ir. Sutami No. 36, Surakarta, Indonesia
2Department of Occupational Health and Safety, Vocational School, Universitas Sebelas Maret, Jalan, Ir. Sutami No. 36, Surakarta, Indonesia
3Department of Pediatrics, Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret, Dr. Moewardi Hospital, Jalan, Ir. Sutami No. 36, Surakarta, Indonesia, Jalan, Kolonel Sutarto No. 132, Surakarta, Indonesia
ABSTRAK
Latar Belakang: Stunting adalah kondisi yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan selama 1000 hari pertama kehidupan karena kekurangan nutrisi yang berlangsung lama. Kabupaten Brebes merupakan wilayah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Tengah yaitu sebesar 29.1%. Stunting dipengaruhi langsung oleh status infeksi anak serta konsumsi zat gizi makro maupun mikro.
Tujuan: Studi ini menyelidiki bagaimana Minimum Acceptable Diet (MAD), ASI eksklusif, dan penyakit infeksi berkorelasi dengan stunting pada anak-anak berusia 6 hingga 23 bulan di Kabupaten Brebes.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder hasil dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dengan desain potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini dilakukan pada kelompok anak berusia 6 hingga 23 bulan yang terdaftar di SSGI 2022 Kabupaten Brebes. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 189 anak yang didapatkan dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data dianalisis secara univariat dengan tabel distribusi frekuensi, bivariat dengan uji Chi-Square, dan multivariat dengan uji regresi logistik biner.
Hasil: Balita yang tidak mencapai MAD berisiko 1.30 kali mengalami stunting dan balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi memiliki risiko 1.33 kali terkena stunting namun tidak signifikan secara statistik (p-value >0.05). Tidak signifikan variabel tersebut dapat disebabkan karena MAD yang dipengaruhi oleh beberpa faktor seperti pendidikan ibu dan ayah, kunjungan antenatal, dan tempat tinggal serta definisi penyakit infeksi yang terlalu luas. Hubungan yang tidak signifikan antara MAD dan stunting mungkin juga disebabkan oleh bias dalam pengukuran MAD, yang mengandalkan ingatan akan asupan makanan selama 24 jam terakhir. Sedangkan balita tidak ASI eksklusif dapat meniurunkan risiko stunting 2.38 kali dan signifikan secara statistik (p-value 0.013).
Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara MAD dan penyakit infeksi dengan stunting namun terdapat korelasi yang signifikan antara ASI eksklusif terhadap stunting.
KATA KUNCI: ASI eksklusif; minimum acceptable diet; penyakit infeksi; stunting
*Correspondence: rmailaputri@student.uns.ac.id

